Soal Hubungan Dengan Orangtua
Soal Hubungan Dengan Orangtua ...
![]() |
| My lil boy : Gustav, 2019 |
“Seperti kasih sayang orangtua dan apalagi kasih sayang ibu yang kalo dituang tiba-tiba jadi muara, gue sebagai anak akan selalu punya rasa yang sama. Cinta yang nggak pernah bertepuk sebelah tangan meskipun perasaan ini gue peroleh setelah gue merantau dan jauh dari mereka.”
Sejak kecil
gue selalu diajari untuk mandiri. Nggak tau ya ini belajar mandiri atau
terpaksa mandiri sampai gue punya pandangan bahwa semakin gue bisa sendiri maka
gue semakin berhasil. Pola pikir ini yang akan jadi bumerang di masa depan
karena gue tumbuh menjadi seseorang yang merangkum semua materi sendiri, merasa
nggak percaya dengan orang lain and when
I know i’m not actually enough, gue akan serendah diri itu. (Bedain ya rendah diri sama rendah hati).
Orangtua gue
terhitung banyak jumlahnya. Selain ibu dan bapak ada banyak komponen ‘orangtua’
di keluarga gue, ditambah ya setiap orang berumur yang gue temui gue anggap
orangtua, dan lucky me orang-orang
berumur yang gue temui pada masa kecil hingga remaja tanggung kebanyakan
bersikap hangat dan tidak ketus, maka begitupulalah bagaimana gue bersikap
kepada mereka. Tapi hal ini membuat gue tidak biasa dengan orang yang lebih tua
dari gue yang memiliki sikap dingin dan ketus. Sampai sekali ada orang yang bersikap
demikian ke gue, maka hampir selamanya gue akan menganggap mereka memang
manusia yang ketus. Gue tidak lagi mau mendekat.
Dewasa ini,
kasus ini melatarbelakangi ketidaksukaan gue terhadap dosen yang dingin,
padahal ya memang hak mereka untuk bersikap begitu dan memang sudah lazimnya
mereka mengajar secukupnya. Katanya sebagai mahasiswa, “ Udah waktunya kalian
riset mandiri.” Tapi nggak semua orang punya kesukaan dan kapasitas yang bagus
untuk reach that ‘knowledgeable level’.
Oke move, takut OOT bab dosen nanti ada di lembar yang lain.
Persoalan yang
kurang lebih selama gue udah memasuki usia anak ‘bisa disuruh/dimintain tolong’
adalah gue disuruh peka, harus ngapain aja dan selalu aja kesalahan yang gue
lakuin menjadi bahan omelan [ wkwkwk mungkin begitu cara orangtua melepas stress yang menumpuk di kepala meskipun
di sisi lain hal ini nggak jarang menempelkan stress di pikiran anak (untung gue udah pengertian)] . Sejak dulu,
rasanya kegiatan membantu pekerjaan rumah tangga memang tidak penah memperoleh
predikat excellent. Selalu ada
kurangnya. Ketika gue udah cukup doing
good justru komentarnya adalah “ Nah gitu kan bisa.” Rasanya kalimat
komentar ini kurang pas di hati gue sebagai bentuk kalimat apresiasi. Tapi masa
iya gue ngajarin orangtua?
My inner : “ Bukan men, bahasanya bukan ngajarin. Tapi berusaha bersikap terbuka dan
ngasih tau apa yang kita mau.” Maunya gue sih gitu. Tapi orangtua kalo di jawab
titahnya, beliau suka malah ngambek dan malah bilang “ Besok-besok saya kerjain
sendiri aja. Kamu nggak usah bantuin. Saya bisa sendiri.” Gawat, ultimantum.
Maksud hati
nggak pernah sampai ke situ sebenernya. Seperti kasih sayang orangtua dan
apalagi kasih sayang ibu yang kalo dituang tiba-tiba jadi muara, gue sebagai
anak akan selalu punya rasa yang sama. Cinta yang nggak pernah bertepuk sebelah
tangan meskipun perasaan ini gue peroleh setelah gue merantau dan jauh dari
mereka.
Oke maksud
hati nggak pernah sampai ke situ, tapi karena gue udah tau nanti akan berakibat
seperti apa akhirnya gue memilih untuk diam dan iya-iya aja. Sejujurnya
perilaku ini akan menimbun banyak hal dari mulai nggak bisa jujur ngutarain
perasaan, memaksa diri untuk bisa melakukan semua hal (apalagi gue punya sifat
yang ketika gue ngerasa bisa melakukan sesuatu yang nggak semua orang bisa gue
akan merasa keren), terus apalagi ya ? mungkin malah nggak menjadikan orangtua
adalah tempat kembali dan tempat yang paling luas untuk berjalan-jalan sambil
bercerita (curhat bor).
Kemarin juga
gitu, ketika orangtua di rumah minta untuk dibuatin kopi, (kan gue ini orangnya
pelupa ya, sampe gue sering telat masuk kelas gara-gara 5 menit sebelum
waktunya gue udah berangkat ke kampus kacamata gue selalu gatau naruh di mana,
kalau enggak hp gue gue taruh di mana gue lupa) terus gue lupa juga bikinin
kopi. Kopi pesenannya 2, satu kopi susu dan yang satu kopi item. Kopi susu udah
nih, terus kopi itemnya ketahan gara-gara gue pikir nunggu yang mesen selesai
nyuci di lantai 3 jadi minumnya nanti bisa masih panas-panas gitu, sama
sekalian nggak ada sendok buat ngaduk gulanya. Dan berakhir gue lupa. Kemudian
terjadilah percakapan :
“ Lho, kopinya
mana.” Gue auto diem karena gue juga
lupa, abis itu ngeles
“ Lah iya lupa,
tadi kan nunggu nyucinya selesai. Yaudah Aku bikinin dulu ya.”
“ Gausah.”
“ Yailah gitu aja
ngambek.” Ini beneran gue ngomong ke orangtua yang ada di rumah kebetulan
beliau 70% kooperatif. Kenapa gue bilang kooperatif? Beliau seringkali marah
tapi cepat dingin, lain halnya dengan yang cepat panas dan lama dinginnya,
karakter ini perlu dua jenis anak yang kemungkinan bisa ngadepin, pertama emang
bandel banget dan nggak takut mau diapain juga dan kedua, anak yang amat sabar
dan bisa menjelma partikel kecil, menyusup ke kalbu orangtua dengan caranya
sendiri kemudian pelan-pelan memberi tau .
Terkadang
orangtua di lisan aja sebenernya bisa bilang “ Gausah dibikinin.” “ Gausah
dibantuin, bisa sendiri.” Padahal itu maknanya lain. Di sini penting banget
buat menghadapi dan memahami karakter orangtua yang kadang beda maksud
kemauannya dan antara lisan dengan hatinya. Anak sering punya suara hati : “ Kenapa
orangtua nggak mencoba untuk apa adanya aja ? memberi perintah untuk
mengerjakan beberapa hal dengan kalimat jelas misalnya atau memberikan list pekerjaan yang harus dikerjakan
dengan instruksi yang meminimalisir terjadinya kesalahan yang anak lakukan ?”
Ya, seperti
ini kalimat yang gue yakini dalam beberapa kasus “ Kita nggak akan tau mau
seseorang kalau seseorang itu nggak menerjemahkan kemauannya dalam kalimat yang
jelas dan dapat dimengerti.” Begitulah urusan antara anak dan orangtua yang
sebaiknya diterapkan untuk mengantisipasi timbulnya jembatan antara dua pulau
yang harusnya bersatu. Saling terbuka.
Tapi tetep aja,
pada akhirnya orangtua dan anak selalu punya tabirnya sendiri-sendiri. Kadang
gue pun berpikir bagaimana bisa ada remaja di luar sana yang menjadikan
orangtua sebagai tempat untuk membagi 90% teenagers
love storynya, sedangkan orangtua gue pasti bakalan menyelidik kalau
diberitau soal ini apalagi sampe 90% wkwkwk.
Sebenarnya apa
tujuan dari tulisan ini ? Curhat. Selebihnya untuk mengajak pembaca berpikiran
betapa pentingnya jujur dan terbuka, betapa pentingnya menilai karakter diri
dan orangtua dan anak kalo udah punya anak nanti (sehingga kita bisa tau, ketika
kita di posisi anak gimana cara kita treat
orangtua dan ketika nanti kita udah jadi orangtua kita tau cara untuk treat anak kita), dan betapa pentingnya
menimbang-nimbang mana yang sebaiknya dilakukan. Dah.

Menjadi orang tua😭
BalasHapusPengen nangis bacanya, tapi gabisaa:")
BalasHapusbahasa dan pesan ceritanya <3!
BalasHapus